Manusia menurut hikam
Apa itu manusia menurut al-Hikam?
Hikam memberi jawaban tegas:
مَنْ كَانَتْ مَحَاسِنُهُ مَسَاوِيَ
فَكَيْفَ لَا تَكُونُ مَسَاوِيِهِ مَسَاوِيَ
Barang siapa kebaikan-kebaikannya saja sudah bernilai keburukan,
maka bagaimana mungkin keburukan-keburukannya tidak menjadi keburukan
Manusia itu, kebaikannya bisa saja salah apalagi keburukannya.
Apa itu al-Hikam?
al-Hikam adalah kitab yang berisi kumpulan hikmah.
Pengarangnya: Ibnu Athaillah as-Sakandari
Kitab ini berisi rangkaian kalimat yang dimaksudkan untuk menuntun hati agar merasa nyaman dan dekat dalam hubungan dengan Tuhan.
Lalu mengapa ia mengomentari manusia seperti itu? Apa hikmahnya?
Mari kita selami maknanya.
Kesan awal komentarnya
Sekilas, kalimat itu terkesan:
- mendemotivasi perbuatan baik
- atau kurang memberi apresiasi pada kebaikan
Namun, apakah benar seperti itu?
Tampak ada dua poin utama:
- kehati-hatian dalam bertindak
- “kesalahan” adalah sesuatu yang tak terelakkan dalam diri manusia
Contohnya
Kita memberi tumpangan teman yang sebenarnya hendak memesan ojek online.
Niat kita membantu, namun:
- bisa jadi kita membatalkan rejeki orang lain (tukang ojek)
- teman kita menghemat uang, tapi tukang ojek kehilangan peluang
Rejeki memang aturan Tuhan, tapi tindakan kita tetap punya kontribusi.
Namun tetap saja, membantu teman adalah kebaikan, dan sah-sah saja dilakukan.
Contoh lainnya lagi. Saat berpapasan, kita bertanya pada teman: “Mau ke mana?”
Padahal, bisa jadi ia sedang malu untuk menjawab:
- mencari hutangan
- kebutuhan hidup yang mendesak
- atau masalah pribadi lain
Pertanyaan itu bisa memaksa orang:
- mengungkapkan hal yang ia malu
- atau memilih jawaban yang tidak semestinya (misal: “ke depan”)
Meski bukan kebohongan, jawabannya bisa membelokkan esensi yang sebenarnya.
Ada banyak situasi seperti itu.
Yang terlihat baik belum tentu bebas dampak, dan yang terlihat kecil bisa mengandung “konsekuensi” yang besar.
Kita kembali ke dua poin utama:
- kehati-hatian dalam bertindak
- kesalahan adalah hal yang tak terelakkan dalam diri manusia
Kehati-hatian dalam berbuat baik
Repot banget ya? Untuk sekadar berbuat baik harus menimbang ini itu?
Bisa dibilang iya dan tidak. Sebenarnya kebaikan memang mudah dilakukan, sesederhana kita 'senyum' saja. Jadi secara praktik mudah, tapi ada konsekuensi di atasnya yang membuatnya tampak sulit.
Setiap kali melakukan kebaikan, perlu kiranya kita menyisakan sebagian kecil di hati: bahwa niat baik kita bisa saja berisiko tidak baik. Maka dari dalam kebaikan pun perlu adanya istighfar, permohonan ampun kepada Tuhan.
Dengan pembiasaan sikap rendah hati di hadapan Yang Maha Tinggi, rasa ikhlas dapat terlatih. Orientasinya pun sudah tergeser, bukan lagi ke manusia, melainkan langsung ke Tuhan: apakah kebaikan yang dipilih ini benar-benar diridhai-Nya?
Potensi kesalahan manusia adalah hal yang tak terelakkan
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, berbagai hal memiliki potensi keburukan. Ketidakjelasan ini justru memperkuat keyakinan bahwa hanya Tuhan yang berhak menilai kebaikan manusia.
Sikap hati-hati dan keyakinan tidak sepenuhnya kontradiksi. Jika kita sudah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan yakin bahwa suatu perbuatan baik serta layak dilakukan, maka tinggal lakukan saja.
Tidak perlu risau dengan penilaian selain dari Tuhan, tidak perlu terlalu memikirkan respon orang lain terhadap kebaikan yang hendak dilakukan.
Dan karena hal inilah, alangkah lebih baiknya sebagai manusia kita senantiasa berbuat baik sebanyak dan sesering mungkin, karena kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang paling mendapatkan ridho Tuhan.
Kematian dalam perspektif kebaikan
Dengan pemahaman dan keyakinan seperti ini, persepsi tentang kematian pun menjadi lebih menenangkan.
Manusia hidup untuk mengisi kebaikan, dan ketika mati pun dalam satu sisi untuk mencegah potensi keburukan. Kita tidak pernah tahu seperti apa diri kita di hari esok; bisa saja, "jika" umur kita lebih panjang, justru kita menimbun lebih banyak keburukan.
Dalam pengertian ini, kematian dapat dipahami sebagai wujud cinta Tuhan: Dia memanggil kita kembali dalam keadaan yang paling dekat dengan-Nya.
Namun ini bukan berarti pasrah terhadap hidup. Justru Tuhan memerintahkan manusia untuk mengingat kematian dengan cara bertahan hidup. Karena dengan hidup, banyak kebaikan yang masih bisa dilakukan, yang semakin mendekatkan kita kepada-Nya.
Sebagaimana doa yang diajarkan Nabi:
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Allahummaj'alil hayata ziyadatan li fi kulli khoirin wal mauta rohatan li min kulli syarrin
"Ya Allah jadikanlah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan"