What I Think

Kocak tapi tajam, kritik Baqir Sadr terhadap doktrin Empirisme

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah kritik dalam salah satu karya beliau, yang saya rasa lucu dan menarik untuk dibagikan.

Salah satu gagasan yang dikritik adalah klaim dalam doktrin empirisme yang menyatakan bahwa:

Pengalaman adalah kriteria utama dalam menggali kebenaran.

Gagasan itu pula yang menjadi prinsip dasar kaum empiris.

Pertanyaan sekaligus kritiknya adalah:
prinsip itu sendiri adalah sebuah pengetahuan, lalu apakah prinsip itu juga butuh pengalaman sebelumnya agar dianggap benar?

Jika "tidak", maka mereka menganggap prinsip itu adalah keniscayaan, yaitu ada sebuah pengetahuan yang kebenarannya tanpa membutuhkan pengalaman. Artinya, mereka menggugurkan prinsip mereka sendiri.

Kalau jawabannya “iya”, maka konsekuensinya menjadi sangat besar. Sebab prinsip itu sendiri harus dibuktikan melalui pengalaman, dan itu berarti semua bentuk pengetahuan harus masuk ke dalam ruang uji pengalaman.

Namun di sini muncul masalah lanjutan: pengalaman bersifat terbatas, sementara yang ingin dibuktikan bersifat universal. Tidak ada satu pun pengalaman yang benar-benar bisa mencakup seluruh kemungkinan yang dibutuhkan untuk mengesahkan prinsip tersebut secara final. Akibatnya, prinsip itu akan selalu berada dalam posisi yang belum selesai diuji.

Selain itu,muncul persoalan tentang induksi. Induksi adalah metode penalaran yang menyimpulkan prinsip umum dari sejumlah pengamatan khusus yang berulang. Pengalaman hanya menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi berkali-kali, sementara kesimpulan induktif berbicara tentang apa yang akan selalu terjadi. Tidak ada pengalaman yang dapat mencakup masa depan atau seluruh kemungkinan, sehingga keyakinan bahwa pola masa depan akan mengikuti pola masa lalu melibatkan asumsi yang melampaui pengalaman.

Keterbatasan ini juga berkaitan dengan konsep kemustahilan. Pengalaman hanya memberi tahu apa yang terjadi atau belum terjadi, tetapi tidak dapat menetapkan bahwa sesuatu mustahil secara mutlak.

Menetapkan kemustahilan menuntut kepastian bahwa tidak ada satu pun kemungkinan yang tersisa. Namun pengalaman hanya beroperasi pada sejumlah kasus terbatas dan tidak pernah mampu menutup seluruh ruang kemungkinan.

Karena itu, empirisme tidak memiliki landasan untuk sampai pada kesimpulan tentang kemustahilan mutlak.

Pembahasan tentang kemustahilan ini juga bersentuhan dengan hukum non-kontradiksi. Hukum ini menyatakan bahwa sesuatu tidak mungkin ada dan tidak ada pada saat yang sama dalam aspek yang sama. Kepastian terhadap hukum ini tidak diperoleh dari pengalaman, melainkan diterima sebagai kepastian rasional.

Tanpa hukum non-kontradiksi, sains tidak memiliki dasar untuk bekerja. Eksperimen hanya bermakna jika suatu hasil tidak boleh sekaligus benar dan salah dalam kondisi yang sama. Observasi menuntut kepastian bahwa suatu peristiwa tidak bisa pada saat yang sama terjadi dan tidak terjadi. Jika kontradiksi dianggap "mungkin", maka data tidak bisa dievaluasi, hukum alam tidak bisa dirumuskan, dan prediksi ilmiah kehilangan makna.

Dengan kata lain, keberadaan hukum non-kontradiksi menunjukkan bahwa tidak semua kepastian bersumber dari pengalaman. Ada kepastian rasional yang justru menjadi fondasi bagi pengalaman itu sendiri.

Pembahasan ini terkadang juga berkaitan dengan argumen ateisme yang banyak bertumpu pada kerangka empiris. Ketika sesuatu tidak teramati atau tidak terdeteksi dalam pengalaman, kesimpulan yang secara ketat bisa diambil sebenarnya hanya sebatas “belum teramati”.

Namun klaim “Tuhan tidak ada” adalah klaim universal yang menutup seluruh kemungkinan keberadaan. Sementara empirisme sendiri tidak menyediakan landasan untuk menetapkan kemustahilan mutlak. Dengan demikian, jika hanya bertumpu pada pengalaman, klaim ketiadaan Tuhan berdiri di atas fondasi yang sama rapuhnya dengan prinsip empirisme yang sejak awal mereka jadikan pijakan. Jadi, Meski mereka tidak meyakini keberadaan Tuhan, diwaktu yang sama tidak sanggup pula membuktikan ketiadaan-Nya.

Sebenarnya masih banyak kritik lain yang disampaikan Baqir Sadr terhadap empirisme yang tidak bisa diuraikan satu per satu di sini. Dan yang membuat saya merasa hal ini lucu adalah karena pada akhirnya prinsip empirisme justru runtuh oleh prinsipnya sendiri.

Istilah keguguran teori seperti ini kadang disebut sebagai self-refuting statement, yaitu pernyataan yang menggugurkan dirinya sendiri karena standar yang ia tetapkan justru tidak dapat ia penuhi pada dirinya sendiri.

Contoh lain dari self-refuting statement adalah:

“Tidak ada kebenaran mutlak”

Pernyataan ini bermasalah karena ia sendiri mengklaim sebagai sebuah kebenaran. Jika pernyataan itu benar, maka isi pernyataannya juga harus benar, yaitu bahwa tidak ada kebenaran mutlak. Namun ini berarti pernyataan tersebut harus dianggap benar secara mutlak, yang justru ditolak oleh isinya sendiri. Sebaliknya, jika pernyataan itu tidak benar, maka ada setidaknya satu kebenaran mutlak, yaitu bahwa pernyataan itu salah. Dengan demikian, ia menggugurkan dirinya sendiri.

Lalu apa gunanya mengkaji hal seperti ini, terkait teori pengetahuan (epistemologi), terkhusus dalam kerangka Empirisme?

Dalam konteks Baqir Sadr, kritik terhadap empirisme tidak berhenti pada teori pengetahuan semata. Cara kita menentukan sumber kebenaran juga akan mempengaruhi cara kita memahami manusia, masyarakat, dan realitas.

Fungsi kajian ini setidaknya memiliki dua arah:

  1. untuk memahami dampak cara berpikir empiris terhadap lahirnya pandangan dunia modern. Ketika pengalaman dijadikan ukuran utama pengetahuan, maka yang dianggap nyata perlahan terbatas pada apa yang dapat diamati dan diindera.

    Akibatnya, realitas cenderung direduksi pada aspek yang dapat diobservasi dan diukur. Dalam kondisi seperti ini, dimensi material menjadi titik tekan utama dalam memahami dunia.

    Kecenderungan tersebut kemudian memengaruhi cara memahami manusia dan masyarakat, yaitu dengan menjelaskan keduanya melalui faktor-faktor material seperti ekonomi, produksi, dan relasi produksi.

    Dalam hal inilah, muncul berbagai arus pemikiran modern yang berangkat dari kerangka tersebut, di antaranya kapitalisme dan Marxisme.

  2. kajian ini berfungsi sebagai upaya pencegahan sekularisme dalam cara berpikir kaum muslimin. Ketika realitas dipersempit hanya pada yang material, maka pembahasan tentang makna hidup, tujuan manusia, dan sumber nilai perlahan tersisih dari cara memahami kehidupan. Akibatnya, cara memahami dunia dan kehidupan menjadi terpisah dari dasar keimanan. Karena itu, kritik terhadap empirisme juga dapat dipahami sebagai usaha menjaga agar cara pandang Islam tetap utuh.

Sebagai penutup, pembahasan ini hanyalah pengantar dari gagasan yang lebih sistematis dalam Falsafatuna. Membaca langsung karyanya penting untuk memahami kedalaman argumentasi yang tidak dapat sepenuhnya diringkas dalam pembahasan singkat.

No comments yet

Be the first to leave a thought.

Leave a Comment